Definisi, Tujuan, dan Contoh
Teks Fractured Story
Mr. Tino
I. Definisi Fractured
Story
Banyak para ahli mengemukakan pendapat mereka tentang definisi
dari fractured story Bagian ini akan
memaparkan definisi fractured story atau sering juga
disebut sebagai fractured fairy tales dalam konteks
sastra anak. Definisi yang dipaparkan itu sebagian besar memiliki kemiripan
namun ada pula yang berbeda sama seklai. Dalam ulasan tentang definisi fratured story ini, penulis hanya akan
menyajikan 3 (tiga) pendapat para ahli dari luar negeri yang cukup terkenal
sebagai penulis cerita.
Johnson dalam bukunya yang berjudul The Joy of Children's
Literature (2012) menyatakan bahwa fractured story adalah cerita yang mengambil dongeng
tradisional yang sudah dikenal luas dan mengubahnya dengan mengubah karakter,
latar, sudut pandang, atau alur ceritanya guna menciptakan narasi yang baru dan
sering kali bersifat humoris atau ironis. Sedangkan, Short,
Lynch-Brown, dan Tomlinson dalam bukunya yang berjudul Essentials of Children's Literature (2014) mendefinisikan fractured story sebagai bentuk sastra yang secara
sengaja memutarbalikkan elemen-elemen dari cerita rakyat atau dongeng klasik
untuk menyampaikan pesan yang berbeda atau untuk memberikan komentar sosial
terhadap nilai-nilai yang ada pada cerita aslinya. Selanjutnya yang terakhir
dalam buku yang berjudul Children's Literature, Briefly,
Tunnell dan Jacobs (2013)
menjelaskan bahwa fractured stories adalah versi
kontemporer dari cerita lama yang "dirusak" atau
"dihancurkan" secara kreatif, di mana penulis menggunakan kerangka
dasar cerita yang sudah mapan namun mengisinya dengan detail-detail yang tidak
terduga atau anakronistis.
Berdasarkan ketiga teori ahli yang dipaparkan di atas, penulis dapat
menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan fractured story adalah sebuah
teknik dekonstruksi narasi dimana sebuah cerita klasik—biasanya dongeng atau
cerita rakyat yang sudah sangat populer—dimodifikasi secara radikal. Modifikasi
ini dilakukan dengan cara mengacak elemen intrinsik cerita (seperti tokoh yang
awalnya jahat menjadi baik, atau latar waktu kuno menjadi modern) untuk
menghasilkan sebuah karya baru yang tetap memiliki "jejak" cerita asli
namun dengan perspektif dan nuansa yang sepenuhnya segar.
II. Tujuan Fractured Story
Penyajian tujuan dari penggunaan teknik fractured story ini didasarkan pada perspektif edukasi
dan literasi kreatif. Ada 3 (tiga) pendapat ahli yang menarik untuk penulis
sajikan disini terkait dengan tujuan fractured
story, diantaranya adalah menurut penjelasan di dalam buku berjudul Why Fairy Tales Stick: The Evolution and Relevance of a Genre
bahwa tujuan utama dari fractured story adalah
untuk membebaskan pembaca dari cara berpikir konvensional (Zipes, 2006). Dengan
memutarbalikkan cerita lama, Zipes mengajak pembaca untuk mempertanyakan
norma-norma sosial dan stereotip yang sering kali tertanam kuat dalam dongeng
tradisional. Selanjutnya, O'Neil dalam bukunya
yang berjudul Once Upon a Time: Rethinking Picture Book
Formats (2010) menekankan
tujuan dari sisi kreativitas dan keterlibatan pembaca; teknik ini bertujuan
untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking)
karena pembaca dipaksa untuk membandingkan teks baru dengan pengetahuan awal
mereka mengenai teks asli. Kemudian tujuan dari fractured story dikemukakan oleh
Hadjioannou dan Hutchinson dalam bukunya
yang berjudul Fostering Critical Literacy through Strategy
Instruction in the Primary Grades (2010),
yaitu tujuan praktis dari fractured story
dalam dunia pendidikan adalah untuk mengajarkan konsep sudut pandang (point of view). Dengan mengubah siapa yang menceritakan
kisah tersebut, siswa dapat memahami bahwa sebuah kebenaran dalam cerita
bersifat subjektif.
Mengacu dari ketiga pendapat para ahli tersebut di atas, penulis
menyimpulkan bahwa tujuan dari Fractured Story tidak sekadar
untuk memberikan hiburan atau humor semata. Lebih jauh lagi, teknik ini
bertujuan sebagai instrumen kritik
sosial dan alat asah intelektual. Melalui narasi yang diputarbalikkan,
audiens diajak untuk melihat sebuah fenomena dari berbagai sisi, membongkar
prasangka atau stereotip lama, serta menumbuhkan daya imajinasi yang lebih liar
dan kritis terhadap teks-teks budaya yang kita konsumsi sehari-hari.
III.
Contoh Teks Fractured Stories dalam Bahasa Inggris
Untuk
lebih memahami tentang fractured story secara
utuh, berikut ini penulis sajikan 2 (dua) contoh teks fractured story yang disadur dari dua buah buku karangan ahli yang berbeda.
1.
The Wolf’s Side of the Story
Based
on "The Three Little Pigs"
For
years, you have heard the story of the Big Bad Wolf who blew down houses out of
pure malice. But let me tell you the truth: I had a terrible cold.
I
wasn't trying to eat those pigs; I just wanted to borrow a cup of sugar to bake
a cake for my dear grandmother. When I got to the first house, made of flimsy
straw, my nose started to itch. I tried to hold it in, but—ACHOO!—I sneezed a giant sneeze, and
the house simply fell apart because of poor construction. I ran to the next
house to check if the pig was okay, but the same thing happened. It wasn't
"huffing and puffing"; it was just a very bad allergy season and a
lack of building permits!
(Sumber: Scieszka, J. (1989). The True Story of the 3 Little
Pigs! Viking Press)
2.
Cinderella: The CEO of Shoes
Based
on "Cinderella"
Cinderella
didn't want a prince; she wanted a business partner. While her stepsisters were
busy trying to squeeze their feet into a glass slipper, Cinderella was in her
basement workshop, designing the world's first ergonomic crystal heel.
The
night of the ball, she didn't go to dance with the Prince. She went to pitch
her business plan to the King, who was the kingdom's biggest venture
capitalist. The "Midnight Deadline" wasn't a magic spell wearing
off—it was the deadline to file her patent applications at the royal office.
Today, she doesn't live in a palace; she lives in a penthouse, running a
multi-million gold coin footwear empire, and she still hasn't married that
Prince because he simply didn't have the "sole" for business.
(Sumber
Utama: Munsch, R.
(1980). The Paper Bag
Princess. Annick Press. (Sebagai pelopor cerita putri yang mandiri secara
finansial/emosional).
Daftar Pustaka
Hadjioannou, X., & Hutchinson, K. A. (2010). Fostering Critical Literacy through Strategy Instruction in the
Primary Grades. The Reading Teacher.
Johnson, D. (2012). The Joy of Children's
Literature. Belmont, CA: Wadsworth.
Munsch, R.
(1980). The Paper Bag
Princess. Annick Press. (Sebagai pelopor cerita putri yang mandiri secara
finansial/emosional).
O’Neil, K. E. (2010). Once Upon a Time: Rethinking
Picture Book Formats. The Reading Teacher.
Scieszka, J.
(1989). The True Story of
the 3 Little Pigs!. Viking Press.
Short, K. G., Lynch-Brown, C., & Tomlinson, C. M. (2014). Essentials of Children's Literature. Boston: Pearson.
Tunnell, M. O., & Jacobs, J. S. (2013). Children's Literature, Briefly. Upper Saddle River, NJ: Pearson.
Zipes, J. (2006). Why Fairy Tales Stick: The Evolution and Relevance of a Genre. New York: Routledge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar