Rabu, 01 April 2026

Definisi, Tujuan, dan Contoh Teks Fractured Story

 Definisi, Tujuan, dan Contoh

Teks Fractured Story

Mr. Tino

 

I. Definisi Fractured Story

Banyak para ahli mengemukakan pendapat mereka tentang definisi dari fractured story Bagian ini akan memaparkan definisi fractured story atau sering juga disebut sebagai fractured fairy tales dalam konteks sastra anak. Definisi yang dipaparkan itu sebagian besar memiliki kemiripan namun ada pula yang berbeda sama seklai. Dalam ulasan tentang definisi fratured story ini, penulis hanya akan menyajikan 3 (tiga) pendapat para ahli dari luar negeri yang cukup terkenal sebagai penulis cerita.

Johnson dalam bukunya yang berjudul The Joy of Children's Literature (2012) menyatakan bahwa fractured story adalah cerita yang mengambil dongeng tradisional yang sudah dikenal luas dan mengubahnya dengan mengubah karakter, latar, sudut pandang, atau alur ceritanya guna menciptakan narasi yang baru dan sering kali bersifat humoris atau ironis. Sedangkan, Short, Lynch-Brown, dan Tomlinson dalam bukunya yang berjudul Essentials of Children's Literature (2014) mendefinisikan fractured story sebagai bentuk sastra yang secara sengaja memutarbalikkan elemen-elemen dari cerita rakyat atau dongeng klasik untuk menyampaikan pesan yang berbeda atau untuk memberikan komentar sosial terhadap nilai-nilai yang ada pada cerita aslinya. Selanjutnya yang terakhir dalam buku yang berjudul Children's Literature, Briefly, Tunnell dan Jacobs (2013) menjelaskan bahwa fractured stories adalah versi kontemporer dari cerita lama yang "dirusak" atau "dihancurkan" secara kreatif, di mana penulis menggunakan kerangka dasar cerita yang sudah mapan namun mengisinya dengan detail-detail yang tidak terduga atau anakronistis.

Berdasarkan ketiga teori ahli yang dipaparkan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan fractured story adalah sebuah teknik dekonstruksi narasi dimana sebuah cerita klasik—biasanya dongeng atau cerita rakyat yang sudah sangat populer—dimodifikasi secara radikal. Modifikasi ini dilakukan dengan cara mengacak elemen intrinsik cerita (seperti tokoh yang awalnya jahat menjadi baik, atau latar waktu kuno menjadi modern) untuk menghasilkan sebuah karya baru yang tetap memiliki "jejak" cerita asli namun dengan perspektif dan nuansa yang sepenuhnya segar.


II. Tujuan Fractured Story

Penyajian tujuan dari penggunaan teknik fractured story ini didasarkan pada perspektif edukasi dan literasi kreatif. Ada 3 (tiga) pendapat ahli yang menarik untuk penulis sajikan disini terkait dengan tujuan fractured story, diantaranya adalah menurut penjelasan di dalam buku berjudul Why Fairy Tales Stick: The Evolution and Relevance of a Genre bahwa tujuan utama dari fractured story adalah untuk membebaskan pembaca dari cara berpikir konvensional (Zipes, 2006). Dengan memutarbalikkan cerita lama, Zipes mengajak pembaca untuk mempertanyakan norma-norma sosial dan stereotip yang sering kali tertanam kuat dalam dongeng tradisional. Selanjutnya, O'Neil dalam bukunya yang berjudul Once Upon a Time: Rethinking Picture Book Formats (2010) menekankan tujuan dari sisi kreativitas dan keterlibatan pembaca; teknik ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) karena pembaca dipaksa untuk membandingkan teks baru dengan pengetahuan awal mereka mengenai teks asli. Kemudian tujuan dari fractured story dikemukakan oleh Hadjioannou dan Hutchinson dalam bukunya yang berjudul Fostering Critical Literacy through Strategy Instruction in the Primary Grades (2010), yaitu tujuan praktis dari fractured story dalam dunia pendidikan adalah untuk mengajarkan konsep sudut pandang (point of view). Dengan mengubah siapa yang menceritakan kisah tersebut, siswa dapat memahami bahwa sebuah kebenaran dalam cerita bersifat subjektif.

Mengacu dari ketiga pendapat para ahli tersebut di atas, penulis menyimpulkan bahwa tujuan dari Fractured Story tidak sekadar untuk memberikan hiburan atau humor semata. Lebih jauh lagi, teknik ini bertujuan sebagai instrumen kritik sosial dan alat asah intelektual. Melalui narasi yang diputarbalikkan, audiens diajak untuk melihat sebuah fenomena dari berbagai sisi, membongkar prasangka atau stereotip lama, serta menumbuhkan daya imajinasi yang lebih liar dan kritis terhadap teks-teks budaya yang kita konsumsi sehari-hari.

 

III. Contoh Teks Fractured Stories dalam Bahasa Inggris

Untuk lebih memahami tentang fractured story secara utuh, berikut ini penulis sajikan 2 (dua) contoh teks fractured story yang disadur dari dua buah buku karangan ahli yang berbeda.

 

1. The Wolf’s Side of the Story

Based on "The Three Little Pigs"

For years, you have heard the story of the Big Bad Wolf who blew down houses out of pure malice. But let me tell you the truth: I had a terrible cold.

I wasn't trying to eat those pigs; I just wanted to borrow a cup of sugar to bake a cake for my dear grandmother. When I got to the first house, made of flimsy straw, my nose started to itch. I tried to hold it in, but—ACHOO!—I sneezed a giant sneeze, and the house simply fell apart because of poor construction. I ran to the next house to check if the pig was okay, but the same thing happened. It wasn't "huffing and puffing"; it was just a very bad allergy season and a lack of building permits!

(Sumber: Scieszka, J. (1989). The True Story of the 3 Little Pigs! Viking Press)

 

2. Cinderella: The CEO of Shoes

Based on "Cinderella"

Cinderella didn't want a prince; she wanted a business partner. While her stepsisters were busy trying to squeeze their feet into a glass slipper, Cinderella was in her basement workshop, designing the world's first ergonomic crystal heel.

The night of the ball, she didn't go to dance with the Prince. She went to pitch her business plan to the King, who was the kingdom's biggest venture capitalist. The "Midnight Deadline" wasn't a magic spell wearing off—it was the deadline to file her patent applications at the royal office. Today, she doesn't live in a palace; she lives in a penthouse, running a multi-million gold coin footwear empire, and she still hasn't married that Prince because he simply didn't have the "sole" for business.

(Sumber Utama: Munsch, R. (1980). The Paper Bag Princess. Annick Press. (Sebagai pelopor cerita putri yang mandiri secara finansial/emosional).



Daftar Pustaka


Hadjioannou, X., & Hutchinson, K. A. (2010). Fostering Critical Literacy through Strategy Instruction in the Primary Grades. The Reading Teacher.

Johnson, D. (2012). The Joy of Children's Literature. Belmont, CA: Wadsworth.

Munsch, R. (1980). The Paper Bag Princess. Annick Press. (Sebagai pelopor cerita putri yang mandiri secara finansial/emosional).

O’Neil, K. E. (2010). Once Upon a Time: Rethinking Picture Book Formats. The Reading Teacher.

Scieszka, J. (1989). The True Story of the 3 Little Pigs!. Viking Press.

Short, K. G., Lynch-Brown, C., & Tomlinson, C. M. (2014). Essentials of Children's Literature. Boston: Pearson.

Tunnell, M. O., & Jacobs, J. S. (2013). Children's Literature, Briefly. Upper Saddle River, NJ: Pearson.

Zipes, J. (2006). Why Fairy Tales Stick: The Evolution and Relevance of a Genre. New York: Routledge.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar